Rabu, 13 Februari 2013

nama pelukis indonesia


1.AFFANDI
Pelukis nasional yang dilahirkan di Cerebon, 1907. Ia pernah mengenyam pendidikan di AMS-B Jakarta. Kemahiran melukis diperolehnya secara otodidak di Bandung 1936-1942. Affandi dikenal sebagai figure pelukis rakyat dan diakui sebagai perintis seni lukis Indonesia modern. Ia juga mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari National University SIngapura pada tahun 1974 dan Dag Hammarskjold Award pada tahun 1976. Pada tahun 1940-an bersama Barli, Wahdi, Hendra Gunawan mendirikan Grup Lima Pelukis di Bandung dan hijrah ke kota Yogyakarta pada tahun 1946. Kemudian di tahun 1948, Affandi kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Gabungan Pelukis Indonesia dan mendapat beasiswa untuk belajar ke India. Ia lalu menjelajahi Eropa dan Brasil hingga tahun 1953. Teknik melukis dengan menggunakan âpelototanâ cat minyak dengan dominasi warna kuning-hijau-biru serta bernuansa kerakyatan dan kesahajaan merupakan ciri uniknya.


2.RADEN SALEH
3.SINDOEDARSONO SAOEDJOJONO
Sindoedarsono Soedjojono (Kisaran, Sumatera Utara 14 Desember 1913 â 25 Maret, Jakarta, 1985) merupakan pelukis legendaris di Indonesia. Ia sering disebut sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Modern. Ia biasa ditulis dengan nama âS. Sudjojonoâ (dengan mengganti huruf âoeâ dengan âuâ).
Semsar Siahaan (Medan, 11 Juni 1952 – Tabanan, 23 Februari 2005) merupakan seorang perupa dan pelukis berkebangsaan Indonesia. Dia terakhir kali menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional pada tahun 2004.
 

4.BASOEKI ABDULLAH
Basoeki Abdullah (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 25 Januari 1915 â meninggal 5 November 1993 pada umur 78 tahun) adalah salah seorang maestro pelukis Indonesia. Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Ia pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari berbagai penjuru dunia.
 

5.HENDRA GUNAWAN
Dilahirkan pada 11 Juni 1918 di Bandung, Jawa Barat. Ia beruntung karena sempat sempat masuk sekolah dan belajar melukis pada Wahdi, seorang pelukis pemandangan. Dari Wahdi, ia banyak menggali pengetahuan tentang melukis. Kegiatannya bukan hanya melukis semata, tetapi pada waktu senggang ia menceburkan diri pada grup sandiwara Sunda sebagai pelukis dekor. Dari pengalaman itulah, ia mengasah kemampuannya.
Pertemuannya dengan Affandi merupakan fase dan sumber inspirasi jalan hidupnya untuk menjadi seorang pelukis. Dengan didasari niat yang tulus dan besar, ia memberanikan diri melangkah maju. Bermodalkan pensil, kertas, kanvas dan cat ia mulai berkarya. Komunitas dari pergaulannya ikut mendukung dan terus mendorongnya untuk berkembang. Keberaniannya terlihat ketika ia membentuk Sanggar Pusaka Sunda pada tahun 1940-an bersama pelukis Bandung dan pernah beberapa kali mengadakan pameran bersama.
Revolusipun pecah, Hendra ikut berjuang. Baginya antara melukis dan berjuang sama pentingnya. Pengalamannya di front perjuangan banyak memberi inspirasi baginya. Dari sinilah lahir karya-karya lukisan Hendra yang revolusioner. Lukisan âPengantin Revolusiâ, disebut-sebut sebagai karya empu dengan ukuran kanvas yang besar, tematik yang menarik dan warna yang menggugah semangat juang. Nuansa kerakyatan menjadi fokus dalam pemaparan lukisannya.
Pada tahun 1947, ia mendirikan sanggar Pelukis Rakyat bersama temannya, Affandi. Dari sanggar ini banyak melahirkan pelukis yang cukup diperhitungkan seperti Fajar Sidik dan G. Sidharta. Selain melukis, mematung juga merupakan bagian dari kesehariannya. Hasilnya, patung batu Jenderal Sudirman di halaman gedung DPRD Yogyakarta.

Keberpihakannya pada rakyat membuatnya harus mendekam di penjara selama 13 tahun antara tahun 1965-1978, karena ia tercatat sebagai salah seorang tokoh Lekra. Ketika dipenjara, ia masih terus melukis dengan warna-warna yang natural dengan menggunakan kanvas berukuran besar. Semua itu diperolehnya dari begitu seringnya ia belajar dari ikan, baik warnanya maupun karakter ikan yang tidak mengenal diam.
Pelukis yang dekat dengan penyair Chairil Anwar memilih Bali sebagai pelabuhan hati yang teduh, tenang dan ayem. Selain bergaul dengan para pelukis, ia juga bergaul dengan penyair sekaliber Umbu Landu Paranggi, penyair kelahiran Sumba yang menetap di Bali. Umbu sangat menghargai Hendra karena selain catatannya kerjanya didunia seni lukis sebagai maestro ternyata Hendra pun menulis puisi.
Ikan baginya merupakan sumber yang tidak ada habis-habisnya. Dari ikanlah ia dapat melihat warna alami yang sesungguhnya. Sebelum ia meninggal, karya lukisnya tentang tenggelamnya kapal Tampomas membuatnya terinspirasi. Hanya saja ia menggambarkan potret diri yang dise



A. 1. RADEN SALEH ( Semarang 1807 â 1880 ) Salah satu Pelukis Maestro Legendaris Indonesia pada era sebelum kemerdekaan, saat Indonesia masih dijajah Belanda. Raden Saleh merupakan salah satu Pelukis Maestro Indonesia yang diakui sebagai Pelukis kelas Dunia. Karya-karya lukisanya merupakan saksi sejarah, banyak menceritakan tentang situasi pada jaman perjuangan dan kehidupan masyarakat khususnya Jawa. Salah satu karya lukisanya yang terkenal adalah âPenangkapan Diponegoro"
Raden Saleh pernah mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda untuk Studi di Negara Belanda dan Negara-negara Eropa lainya. Gaya aliran Lukisan saleh adalah gaya Naturalism, Realism dan Klasik.

2. AFFANDI ( Cirebon 1907 â 1990 )
Namanya mendunia karena karya-karya lukisan abstraknya yang unik dan berkarakter, dimana gaya lukisanya tersebut belum pernah ada, atau belum pernah diciptakan oleh pelukis sebelumya. Gaya aliran Lukisanya merupakan gaya baru dalam aliran lukisan modern khususnya ekspressionism.
Lukisanya banyak mendapatkan apresiasi dari para pengamat seni dalam dan luar negeri,. Juga aktif berpameran tunggal di Negara-negara seperti: Inggris, Eropa, Amerika dan India, pada masa Tahun 1950-an.
Affandi merupakan salah satu Pelukis yang paling produktif, dimana beliau telah menciptakan lebih dari 2 ribu lukisan selama hidupnya, karyanya telah tersebar diseluruh pelosok Dunia dan dikoleksi oleh para Kolektor kelas lokal dan Dunia.

3. BASUKI ABDULLAH ( Surakarta 1915 â 1993 )
Lahir di Surakarta, bakat dan talenta melukisnya yang luar biasa terlihat dari setiap karya Lukisanya, warna-warna yang terkombinasi matang, kehalusan goresan, kesempurnaan anatomi obyek dan komposisi obyek.
Basuki Abdullah semasa karirnya sebagai seorang Pelukis Maestro, pernah mengawali karirnya studi di Belanda, dan mengadakan perjalanan ke Negara-negar Eropa.
Salah satu prestasinya yang mengharumkan nama Bangsa Indonesia di mata Dunia adalah kesuksesanya menjuarai lomba sayembara melukis pada waktu penobatan Ratu Yuliana (Belanda ) pada 6 September 1948, Basuki Abdullah menjadi juara dan berhasil menyingkirkan 87 Pelukis dari Eropa, beliau juga pernah diangkat menjadi Pelukis tetap di Istana Merdeka, dan karya-karyanya banyak menghiasi ruangan Istana Merdeka.
Semasa hidupnya Basuki Abdullah banyak menerima penghargaan baik dari dalam dan luar Negeri atas Dedikasinya dalam Dunia seni khususnya Lukisan, gaya aliran Lukisan Basuki Abdullah adalah Realism dan Naturalism.

4. HENDRA GUNAWAN ( Bandung 1918 â 1983 )
Dengan talenta sebagai seorang Pelukis senoir dan karakter karya Lukisanya yang khas, menjadikan namanya masuk dalam daftar Pelukis Maestro Legendaris ternama Indonesia.
Tema-tema Lukisan karya Hendra Gunawan banyak melukiskan tentang aktifitas kehidupan masyarkat pedesaan pada jamanya, seperti: Panen Padi, berjualan buah, suasana panggung tari-tarian, dll.
Hampir disemua Lukisanya berlatar belakang alam.
Dalam karakter Lukisanya beliau sangat berani dengan ekspresi warna kontras dan goresan-goresan tebal/ bertekstur, karya Lukisanya banyak dikoleksi oleh para kolektor berkelas dalam negeri. Gaya Aliran Lukisan karya Hendra Gunawan adalah Ekspresionism.

5. S. SUDJOJONO (Kisaran, Sumatera Utara 1913 – 1985
Pelukis Maestro Legendaris Indonesia pada masa kemerdekaan karya Lukisanya banyak melukiskan tema tentang semangat perjuangan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajahan Belanda.
Karya Lukisanya memiliki karakter Goresan ekspresif dan sedikit bertekstur, setelah jaman kemerdekaan kemudian karya Lukisanya banyak bertema Pemandangan Alam, Bunga, Nuansa aktifitas keseharian hidup, dan cerita budaya. Disamping sebagai seorang Pelukis, S.Sudjojono juga sebagai seorang kritikus seni yang berperan dalam kemajuan Seni Rupa Indonesia, terbukti dengan ikut andilnya belaiu dalam beberapa organisasi Seni Rupa, dan bahkan sebagai pendiri salah satu organisasi yang cukup terkenal pada masa tersebut, yaitu persatuan ahli gambar Indonesia (Persagi). Gaya aliran Lukisanya diapresiasi oleh pengamat seni rupa sebagai Bapak seni lukis Indonesia modern.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar